
KUNINGAN, (VOX) – Puluhan ikan dewa dilaporkan mati mendadak di Balong Cigugur, Kabupaten Kuningan, dalam kurun tiga hari terakhir. Fenomena ini bukan sekadar insiden biologis biasa, melainkan sinyal keras dari ekosistem yang sedang kelelahan. Debit air yang berkurang, sirkulasi kolam yang melemah, serta tekanan cuaca ekstrem dinilai menciptakan kondisi ideal bagi parasit untuk berkembang agresif.
Petugas kolam Balong Cigugur, Rohman Sutadi, mengatakan kematian ikan mulai terjadi sejak Kamis pagi dengan jumlah awal sekitar 14 ekor. Keesokan harinya jumlah kematian bertambah sekitar 20 ekor, dan berlanjut hingga Sabtu sehingga total ikan dewa yang mati mencapai sekitar 50 ekor. Ikan-ikan tersebut ditemukan mengambang dengan ciri luka kemerahan, sisik mudah terlepas, dan insang tampak pucat.
“Ini yang membuat daya tahan ikan turun. Terlebih saat ini tengah terjadi cuaca ekstrem yang menyebabkan kondisi air berubah,” ujar Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, Deni Rianto.
Hasil pemeriksaan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan mengonfirmasi adanya parasit jenis cacing yang menempel pada tubuh ikan. Namun akar persoalan tidak berhenti pada parasit semata. Debit air yang masuk ke kolam dinilai tidak mencukupi, menyebabkan kualitas air menurun dan oksigen terlarut berkurang. Dalam kondisi seperti ini, ikan mengalami stres berkepanjangan dan sistem imunnya melemah, membuka jalan lebar bagi parasit untuk berkembang.
Dalam ekologi perairan, parasit jarang menjadi penyebab tunggal. Mereka lebih sering bertindak sebagai “penyelesaian terakhir” ketika lingkungan sudah lebih dulu rusak. Air yang stagnan, minim pergantian, dan miskin oksigen adalah habitat favorit parasit, sekaligus mimpi buruk bagi ikan endemik seperti ikan dewa.
Deni menyebut ikan dewa merupakan ikon Kabupaten Kuningan dan memiliki nilai ekologis serta kultural yang tinggi. Ia berharap dilakukan langkah perbaikan segera, mulai dari penambahan debit air, peningkatan sirkulasi, hingga pemberian pakan yang cukup agar kondisi ikan kembali pulih.

“Ini harus jadi perhatian bersama. Jangan sampai kejadian ini terulang,” ujarnya.
Saat ini, seluruh ikan dewa yang mati telah dipisahkan dan dikuburkan untuk mencegah penyebaran penyakit. Populasi ikan dewa di Balong Cigugur sendiri diperkirakan masih sekitar seribu ekor. Namun tanpa perbaikan mendasar pada pengelolaan air, angka itu berpotensi terus tergerus.
Kematian massal ini menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tidak selalu datang dalam bentuk bencana besar. Kadang ia hadir perlahan, lewat debit air yang menyusut, parasit yang berkembang, dan ekosistem yang dibiarkan bertahan sendirian.***












Tinggalkan Balasan