
VOXPOPULI.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Kuningan berencana melakukan revitalisasi saluran drainase dan gorong-gorong di kawasan perkotaan pada tahun anggaran 2027. Langkah tersebut disiapkan untuk mengatasi persoalan genangan air yang kerap terjadi saat musim penghujan sekaligus mencegah kerusakan infrastruktur jalan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Kuningan, Putu Bagiasna, mengungkapkan bahwa penanganan drainase perkotaan menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah. Namun, revitalisasi tersebut belum mendapatkan alokasi anggaran pada 2026.
Hal itu disampaikan Putu saat diwawancarai Voxpopuli.co.id di Kantor Dinas PUTR Kabupaten Kuningan, Jumat (6/11/2026).
“Revitalisasi untuk gorong-gorong dan drainase itu baru di 2027. Tahun 2026 enggak tersentuh. Yang paling parah-parah khusus perkotaan dulu, yang sering tergenang itu perkotaan,” ujar Putu.
Menurutnya, kondisi drainase yang tidak berfungsi optimal menjadi salah satu penyebab munculnya genangan air di sejumlah ruas jalan, terutama ketika intensitas hujan meningkat.

Putu menegaskan, keberadaan drainase memiliki peranan penting dalam menjaga kualitas dan ketahanan konstruksi jalan. Air yang menggenang terlalu lama dapat mempercepat kerusakan lapisan jalan sehingga berpotensi meningkatkan kebutuhan anggaran pemeliharaan.
“Musuh jalan itu dua, pertama air, kedua air. Jadi Pak Bupati menyarankan seluruh run-off hujan harus masuk drainase. Tapi drainase yang baik adalah tanpa sampah,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar telah memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut dan mendukung upaya pembenahan sistem drainase agar air hujan tidak meluap ke badan jalan.
Dalam rencana penanganannya, pemerintah daerah akan memprioritaskan saluran drainase di kawasan perkotaan yang dinilai paling sering mengalami genangan.
Meski demikian, Putu belum dapat menyebutkan secara terperinci besaran anggaran maupun panjang saluran drainase yang akan direvitalisasi pada 2027.
Ia memastikan program tersebut direncanakan melalui Bidang Cipta Karya, khususnya bidang yang menangani sanitasi, bukan melalui Bidang Bina Marga.
“Bukan di Bina Marga untuk revitalisasi drainase. Drainase perkotaan di bidang sanitasi kita nanti dianggarkan. Saya lupa anggarannya, panjang jalannya, panjang drainasenya, itu akan ditangani 2027,” jelasnya.
Selain persoalan drainase, Putu juga menyoroti kondisi kebersihan bahu jalan yang masih membutuhkan perhatian serius, terutama keberadaan rumput liar dan sampah yang berpotensi mengganggu fungsi infrastruktur.
Menurutnya, pembersihan bahu jalan pada dasarnya merupakan tanggung jawab Dinas PUTR. Namun, keterlibatan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat sangat diperlukan agar pemeliharaan dapat berjalan lebih optimal.
“Pembersihan bahu jalan tetap tanggung jawab PU. Tapi Pak Bupati menyarankan PU dibantu oleh pemerintah kecamatan, bahkan pemerintah desa,” katanya.
Putu menilai kepedulian terhadap kebersihan bahu jalan di Kabupaten Kuningan masih perlu ditingkatkan. Ia mencontohkan masih adanya rumput yang dibiarkan tumbuh tinggi tanpa penanganan.
“Di kita kadang-kadang masyarakat itu atau desa itu cuek terhadap bahu jalan, rumput tinggi dibiarkan,” ungkapnya.
Di sisi lain, keterbatasan anggaran pemeliharaan juga menjadi persoalan tersendiri bagi Dinas PUTR.
Putu mengungkapkan, anggaran yang tersedia untuk kegiatan pembersihan bahu jalan saat ini hanya sebesar Rp500 ribu per bulan untuk kegiatan yang dilaksanakan pada Senin hingga Kamis.
Ia mengaku telah menyampaikan permohonan kepada Bupati Kuningan agar dukungan anggaran tersebut dapat ditingkatkan.
“Jujur saya minta ke Pak Bupati, saat ini untuk pembersihan bahu jalan itu satu bulan Rp500.000, Pak, Senin sampai Kamis. Jadi saya mohon itu untuk ditingkatkan,” ujarnya.
Menurut Putu, pembangunan jalan yang baik harus diimbangi dengan pemeliharaan lingkungan di sekitarnya. Tanpa perawatan bahu jalan dan saluran air, kualitas infrastruktur yang telah dibangun berpotensi mengalami penurunan.
“Apa gunanya jalan sudah bagus-bagus tapi bahu jalan bisa mengancam jalannya,” ucapnya.
Lebih jauh, Putu mengungkapkan temuan mengejutkan saat petugas melakukan pembersihan saluran drainase di kawasan Puspa, sekitar Pandapa Paramarta Kuningan.
Dari satu saluran drainase yang melintang di kawasan tersebut, petugas menemukan tumpukan sampah dalam jumlah besar.
“Ini contoh kemarin, parit di Puspa, di Pandapa depan itu ternyata hampir satu dump truck sampah dari drainase itu, satu drainase yang melintang. Sendok garpu itu dua karung,” bebernya.
Temuan tersebut menjadi gambaran persoalan sampah yang dapat menghambat aliran air di kawasan perkotaan.
Putu secara khusus mengingatkan para pedagang agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik maupun sisa aktivitas perdagangan yang berpotensi masuk ke saluran drainase.
Ia menilai sosialisasi dan peningkatan kesadaran masyarakat perlu terus dilakukan agar saluran air tidak kembali dipenuhi sampah setelah dibersihkan.
“Masyarakat khususnya pedagang ini harusnya digalakkan, disosialisasikan untuk membuang sampah yang baik,” katanya.
Dengan rencana revitalisasi drainase yang baru dijadwalkan pada 2027, pemeliharaan saluran yang sudah ada menjadi langkah penting untuk menghadapi musim penghujan.
Putu berharap adanya kerja sama antara pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjaga kebersihan drainase serta bahu jalan.
Pasalnya, keberhasilan penanganan genangan air tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada pemeliharaan saluran dan kedisiplinan masyarakat dalam mengelola sampah.












Tinggalkan Balasan