
VOXPOPULI.CO.ID Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan lereng Gunung Ciremai, wilayah Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, semakin mengkhawatirkan. Luas area terdampak yang semula diperkirakan sekitar 5 hektare pada Kamis pagi, 22 Oktober 2026, dilaporkan berkembang hingga puluhan hektare.
Kondisi vegetasi yang mengering, tiupan angin, serta medan lereng yang terjal dan berbatu menjadi kendala dalam upaya pemadaman. Petugas gabungan pun terus berupaya mengendalikan api agar tidak merambat ke kawasan hutan lainnya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar meninjau langsung lokasi kebakaran pada Kamis siang. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi terkini sekaligus memperkuat koordinasi penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Menghadapi kebakaran yang terus meluas, Pemerintah Kabupaten Kuningan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk meminta dukungan pemadaman melalui udara menggunakan helikopter dengan metode water bombing.
Dedi Mulyadi mengatakan, dirinya telah berkomunikasi dengan Wakil Menteri Pertahanan dan jajaran TNI Angkatan Udara terkait rencana pengerahan helikopter untuk membantu memadamkan api.

“Saya berkomunikasi dengan Pak Wamenhan dengan jajaran TNI AU, akan segera diturunkan heli untuk melakukan pemadaman melalui water bombing,” kata Dedi saat berada di lokasi kebakaran.
Dukungan pemadaman dari udara diharapkan dapat membantu menjangkau titik-titik api yang sulit diakses melalui jalur darat. Meski demikian, pelaksanaan operasi tersebut tetap menunggu realisasi pengerahan helikopter dan perkembangan koordinasi dengan pihak terkait.
Dedi juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, serta jajaran Masyarakat Peduli Api TNGC yang telah bekerja bersama dalam upaya pengendalian kebakaran di lereng Gunung Ciremai.
Ia turut menyampaikan terima kasih kepada Menteri Sekretaris Negara dan Sekretaris Kabinet atas izin yang diberikan sehingga dirinya dapat berfokus pada penanganan kebakaran di Gunung Ciremai.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menjelaskan, kondisi geografis kawasan yang terbakar menjadi salah satu tantangan utama bagi petugas. Sejumlah titik api berada di lereng curam dan berbatu sehingga berisiko dijangkau hanya dengan mengandalkan pemadaman dari darat.
“Kalau api sudah menjalar ke lereng-lereng yang terjal dan berbatu, proses pemadaman melalui jalur darat akan sangat sulit dan berbahaya,” ujar Dian.
Untuk memperkuat operasi, personel gabungan dari berbagai instansi dilibatkan, antara lain unsur TNI, Polres Kuningan, Kodim 0615/Kuningan, BPBD, Perhutani Jawa Barat, petugas pemadam kebakaran, petugas TNGC, serta masyarakat peduli api.
Dukungan personel dari wilayah sekitar, termasuk Kabupaten Majalengka dan Cirebon, juga disiapkan untuk membantu operasi di posko penanganan. Penugasan direncanakan menggunakan sistem penjagaan bergiliran agar dukungan personel dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Dian juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan insentif sebagai stimulus bagi petugas yang terlibat dalam penanganan kebakaran.
“Mereka berjuang di sana tanpa mengenal waktu, siang dan malam selama dua hari terakhir. Karena itu, provinsi memberikan insentif sebagai bentuk stimulus,” tuturnya.
Selain berfokus pada pemadaman, Pemerintah Kabupaten Kuningan turut memperhatikan kesehatan personel dan relawan yang bertugas di lapangan.
Tim medis dari puskesmas terdekat dipastikan segera diterjunkan untuk memantau kondisi petugas gabungan yang masih bertahan di kawasan atas. Dukungan kesehatan ini penting mengingat operasi berlangsung di medan yang sulit dan membutuhkan tenaga fisik.
Sementara itu, petugas juga melakukan pembuatan sekat bakar sebagai salah satu langkah untuk membatasi penjalaran api dan mengurangi risiko kebakaran meluas ke bagian hutan lainnya.
Bupati Dian mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi vegetasi masih kering dan berpotensi mudah terbakar. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan serta berhati-hati terhadap puntung rokok yang dapat menyulut material kering di kawasan hutan.
“Kami kembali mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan dan mewaspadai puntung rokok. Pohon-pohon dan rumput di sepanjang jalur pendakian saat ini sangat kering sehingga mudah tersulut, terlebih ketika angin bertiup,” tegasnya.
Dedi Mulyadi juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, upaya melindungi alam membutuhkan kepedulian dan kerja sama dari pemerintah maupun masyarakat.
“Mari kita jaga alam secara bersama. Alam adalah diri kita, maka perlakukanlah alam sebagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri,” ucap Dedi.
Hingga Kamis, 22 Oktober 2026, upaya pengendalian karhutla di kawasan Gunung Ciremai masih berlangsung. Dukungan pemadaman melalui udara menjadi salah satu langkah yang dikoordinasikan untuk membantu petugas mengatasi titik api yang sulit dijangkau.
Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari petugas serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan hutan dan lahan dengan kondisi vegetasi kering.
(UGI)









Tinggalkan Balasan