
VOXPOPULI.CO.ID – Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M. menyempatkan diri menikmati Baso Khas Kuningan Mang Iding di kawasan Puspa Siliwangi, Kabupaten Kuningan, Sabtu (3/10/2026).
Kunjungan tersebut bukan sekadar mencicipi kuliner. Bagi Eman, Baso Mang Iding menyimpan kenangan panjang karena dirinya mengaku telah menjadi pelanggan sejak sekitar tahun 2000.
“Ya, saya bukan favorit lagi, langganan. Kalau favoritnya hanya sebentar, kalau langganan saya dari sejak dulu, tahun 2000 sudah ngebakso,” ujar Eman saat diwawancarai.
Lebih dari dua dekade menjadi pelanggan, Eman menilai cita rasa Baso Mang Iding masih mempertahankan kekhasannya.
Menurutnya, tidak banyak perubahan pada rasa yang membuat kuliner tersebut tetap dikenang dan menjadi pilihan setiap kali dirinya melintas di Kuningan.
“Enggak, tetap ya, khasnya seperti itu,” katanya.
Baso Khas Kuningan Mang Iding memang memiliki karakter penyajian yang berbeda dari bakso pada umumnya. Bakso yang telah disiapkan kembali dipanaskan dan diolah di atas wajan, menyerupai proses dioseng, sehingga menghasilkan aroma dan cita rasa tersendiri.

Eman juga menyoroti karakter bakso goreng yang menurutnya menjadi salah satu pembeda utama Baso Mang Iding dibandingkan sajian bakso lainnya.
“Jadi kan ini basonya baso goreng. Baso goreng yang membedakan dengan baso yang lain,” ujarnya.
Eman mengungkapkan, kunjungannya kali ini dilakukan setelah menghadiri agenda dari arah Cirebon. Saat melintasi Kuningan, ia hampir selalu menyempatkan diri mampir ke tempat kuliner yang sudah dikenalnya sejak lama tersebut.
“Saya barusan ada acara dari Cirebon. Kalau lewat Kuningan, pasti dipastikan mampir ke sini,” ungkapnya.
Kebiasaan tersebut membuat Baso Mang Iding bukan hanya sekadar pilihan kuliner bagi Eman, tetapi juga bagian dari nostalgia perjalanan dirinya sejak awal tahun 2000-an.
Saat ditanya mengenai kemungkinan mengajak Mang Iding mengembangkan usahanya di Kabupaten Majalengka, Eman mengatakan hal tersebut belum dilakukan.
“Belum. Enggak diajak. Mungkin tidak mau mengembangkan, mau mengembangkan di Majalengka, saya,” katanya.
Menurut Eman, apabila kuliner khas tersebut dikembangkan di Majalengka, keberadaannya dapat menambah keramaian sekaligus memperkaya pilihan kuliner bagi masyarakat.
“Ya, biar nambah keramaian,” ujarnya.
Selain berbicara mengenai kuliner, Eman juga menyampaikan pandangannya terkait penataan kawasan. Ia menilai penataan diperlukan agar kawasan perkotaan tetap tertib dan tidak kumuh.
Penataan tersebut, menurutnya, mencakup lingkungan maupun keberadaan pedagang kaki lima (PKL).
“Penataan perlu karena jangan sampai kotanya kumuh, baik penataan lingkungannya, maupun penataan PKL-nya,” kata Eman.
Namun, Eman menekankan bahwa proses penataan perlu dibarengi sosialisasi. Pedagang, kata dia, harus memperoleh informasi yang cukup mengenai kebijakan maupun aturan yang diterapkan.
“Kadang harus ada upaya untuk sosialisasi. Karena boleh jadi pedagang belum tahu. Saya pun enggak tahu di sini,” ujarnya.
Eman menilai penataan kawasan pada akhirnya harus memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Bukan hanya pedagang, tetapi juga pengguna jalan dan masyarakat secara luas.
“Bukan hanya pedagang saja ramai, tapi pengguna jalan juga, rakyat yang pelaksanaan pemilu juga, semuanya berjalan. Seiring berjalan, itulah tujuan dari pemerintah siapapun dan di manapun, termasuk di Kuningan. Saya di Majalengka seperti itu,” tuturnya.
Kunjungan Eman ke Baso Mang Iding pun menjadi momen nostalgia. Setelah lebih dari dua dekade mengenal kuliner tersebut, ia masih menyempatkan diri mampir setiap kali melintas di Kabupaten Kuningan.
Bagi Eman, cita rasa khas dan karakter bakso goreng Baso Mang Iding menjadi bagian dari kuliner Kuningan yang tetap melekat dalam ingatannya sejak tahun 2000. (Ugi)









Tinggalkan Balasan