KUNINGAN, (VOX) – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Syiarul Islam Kuningan saat Ketua MUI Kuningan, KH Dodo Syarif Hidayatullah, membacakan pesan Rasulullah tentang keutamaan bulan Ramadhan, Rabu malam (18/02).

Tradisi ini bukan hal baru. Sudah satu dekade terakhir, pesan tersebut selalu dibacakan menjelang Ramadhan usai shalat maghrib. Jamaah duduk rapat, sebagian menunduk, sebagian lainnya terdiam larut dalam kalimat demi kalimat yang sarat makna.

Dalam pembacaan tersebut, disampaikan bahwa Ramadhan adalah bulan paling utama di sisi Allah. Hari-harinya disebut sebagai hari terbaik sepanjang tahun, dan malam-malamnya adalah malam paling mulia. Umat Islam diingatkan bahwa mereka sedang diundang menjadi tamu Allah, ditempatkan di antara hamba-hamba yang dimuliakan.

“Pada bulan ini, nafas kalian adalah tasbih, tidur kalian adalah ibadah, doa kalian dikabulkan, dan amal kalian dilipatgandakan,” demikian pesan yang dibacakan KH Dodo di hadapan jamaah.

Pesan itu juga menekankan pentingnya memperbaiki niat dan menyucikan hati dalam menjalankan puasa serta membaca Al-Qur’an. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan momentum transformasi spiritual. Menahan pandangan dari yang haram, menjaga pendengaran, serta mengontrol lisan menjadi amalan yang ditekankan.

Tak hanya soal ibadah individual, pesan Rasulullah itu juga sarat nilai sosial. Jamaah diajak memperbanyak sedekah kepada fakir miskin, memuliakan anak yatim, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan menyambung silaturahmi.

Disebutkan pula bahwa memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa memiliki ganjaran besar di sisi Allah, bahkan disamakan dengan membebaskan seorang hamba sahaya dan mendapat ampunan dosa. Bahkan, walau hanya dengan seteguk air atau sebutir kurma.

“Amalan paling utama di bulan ini adalah menjauhkan diri dari apa yang diharamkan Allah,” bunyi salah satu bagian pesan yang kembali ditegaskan.

Dalam pesan tersebut juga dijelaskan bahwa pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu selama Ramadhan. Umat diminta memanfaatkan momentum ini untuk memperbanyak doa dan taubat.

KH Dodo menutup pembacaan dengan ajakan agar Ramadhan dijadikan ruang perbaikan diri. Bukan hanya ritual tahunan, tetapi sebagai titik balik menuju akhlak yang lebih baik dan kehidupan yang lebih bermakna.

Tradisi pembacaan pesan Rasulullah ini menjadi pengingat kolektif bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang. Sebuah undangan kehormatan yang datang sekali dalam setahun, dan selalu menyisakan pertanyaan reflektif bagi setiap pribadi: sudahkah kita benar-benar mempersiapkan diri menjadi tamu yang pantas dimuliakan.***