VOXPOPULI.CO.ID– Gagasan untuk memperkuat gerakan mahasiswa yang membumi, inklusif, dan kolaboratif di Jawa Barat terus digaungkan. Salah satunya datang dari Muhamad Sayffulloh Rohman, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan yang juga menjadi kandidat Koordinator Daerah BEM Nusantara Jawa Barat.

Sayffulloh membawa gagasan bertajuk “Dari Kuningan untuk Jawa Barat Langkung Sae” sebagai manifestasi gerakan mahasiswa yang dinilai perlu lebih dekat dengan realitas masyarakat dan mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan di daerah.

Menurut Sayffulloh, dinamika sosial-politik serta tantangan pembangunan di Jawa Barat membutuhkan kehadiran mahasiswa yang tidak hanya kritis dalam menyampaikan aspirasi, tetapi juga mampu menawarkan gagasan dan solusi yang berpijak pada kondisi masyarakat.

Sebagai pemuda yang tumbuh dan berproses di Kuningan, ia melihat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten di tingkat lokal.

“Dari Kuningan untuk Jawa Barat Langkung Sae” kemudian menjadi gagasan yang ingin dibawa dalam membangun arah gerakan BEM Nusantara Jawa Barat ke depan.

Sayffulloh menjelaskan, istilah “Langkung Sae” yang berarti “lebih baik” tidak dimaksudkan sekadar sebagai slogan. Menurutnya, istilah tersebut menjadi komitmen moral sekaligus strategis untuk mendorong BEM Nusantara Jawa Barat menjadi wadah gerakan mahasiswa yang inklusif, adaptif, dan memiliki dampak nyata.

Pengalaman selama memimpin BEM UNISA Kuningan menjadi salah satu pijakan dalam merumuskan gagasan tersebut.

Ia menilai, tantangan gerakan mahasiswa saat ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kekuatan masing-masing kampus. Dibutuhkan kerja bersama serta kolaborasi lintas organisasi dan daerah.

“Selama memimpin BEM UNISA Kuningan, saya belajar bahwa kunci utama kepemimpinan mahasiswa masa kini adalah kolaborasi, bukan kompetisi,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi dasar bagi Sayffulloh untuk mendorong penguatan hubungan antarmahasiswa dan organisasi mahasiswa di berbagai wilayah Jawa Barat.

Ke depan, gerakan mahasiswa di Jawa Barat dinilai perlu keluar dari sekat-sekat kepentingan sektoral kampus. Konsolidasi lintas daerah menjadi salah satu agenda yang dianggap penting untuk memperkuat daya tawar serta efektivitas gerakan mahasiswa.

Selain konsolidasi, Sayffulloh mendorong agar gerakan mahasiswa lebih banyak menggunakan kajian berbasis data sebagai landasan dalam menentukan sikap dan merumuskan agenda perjuangan.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir sebagai kelompok yang menyampaikan kritik, tetapi juga mampu menjadi mitra kritis dan konstruktif bagi pemerintah.

Sejumlah isu strategis yang dinilai perlu mendapatkan perhatian antara lain pendidikan, pengentasan ketimpangan sosial, serta pemberdayaan pemuda.

Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi penting untuk ikut mengawal kebijakan publik sekaligus menjembatani aspirasi masyarakat dengan pemangku kebijakan.

Gagasan lain yang ditawarkan Sayffulloh adalah menjadikan BEM Nusantara Jawa Barat sebagai rumah bersama bagi gerakan mahasiswa dari berbagai daerah.

Rumah bersama tersebut diharapkan mampu menjadi ruang untuk bertukar gagasan, melakukan konsolidasi, menyusun kajian, sekaligus melahirkan gerakan yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.

“Sudah saatnya BEM Nusantara Jawa Barat berdiri di garda terdepan sebagai rumah bersama yang solutif,” katanya.

Ia menilai keberagaman karakter daerah di Jawa Barat seharusnya menjadi kekuatan, bukan penghalang bagi gerakan mahasiswa. Karena itu, kerja kolektif dan semangat kebersamaan perlu menjadi fondasi dalam membangun gerakan mahasiswa di tingkat provinsi.

Melalui gagasan “Dari Kuningan untuk Jawa Barat Langkung Sae”, Sayffulloh berharap mahasiswa dari berbagai penjuru Jawa Barat dapat menyatukan langkah untuk mengawal persoalan masyarakat dan mendorong perubahan yang lebih baik.

Bagi dirinya, gerakan mahasiswa tidak cukup hanya bersuara. Gerakan tersebut juga harus mampu memahami persoalan, membangun kolaborasi, menawarkan solusi, dan memastikan setiap gagasan memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.

Dari Kuningan, gagasan itu diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan gerakan mahasiswa Jawa Barat yang lebih inklusif, kritis, solutif, dan membumi. (Ugi)